chitika

Friday, March 2, 2018

Kelapa Sawit Tidak Merusak Lingkungan.

Kelapa sawit merupakan salah satu komoditi unggulan Indonesia.  Sebagai komoditi unggulan, pastinya banyak perusahaan maupun perorangan yang mengusahakan kelapa sawit.  Dan Indonesia juga merupakan negara terbesar pertama dalam hal komoditi kelapa sawit.

Saat ini, kelapa sawit dianggap perusak lingkungan oleh negara Amerika dan eropa. Padahal faktanya tidak demikian. Justru, kelapa sawit banyak memberikan manfaat buat lingkungan dalam hal melindungi tanah dan air.  Berikut 3 manfaat atau fungsi kelapa sawit dalam melindungi tanah dan air :
1. Mekanisme struktur pelepah daun pohon kelapa sawit yang berlapis-lapis mampu menaungi lahan (land cover) mendekati 100 persen saat dewasa. Struktur pelepah daun yang demikian selain berfungsi sebagai “dapurnya” (fotosintesis) kelapa sawit, juga berfungsi melindungi tanah dari pukulan langsung air hujan. Jika hujan datang, pukulan air hujan tidak langsung mengenai tanah namun terlindungi oleh struktur pelepah daun berlapis-lapis tersebut.
2. Mekanisme konservasi tanah dan air berikutnya adalah melalui tata kelola lahan dalam budidaya kelapa sawit. Standar kultur teknis kebun sawit mulai dari penanaman dan pemeliharaan tanaman menggunakan azas-azas konservasi tanah dan air. Mulai dari zero/minimum tillage, penanaman tanaman pelindung (cover crop) pada masa pemeliharaan tanaman belum menghasilkan (umur 0-4 tahun), pembuatan sistem teras pada lahan miring, pembuatan piringan/tapak kuda, penempatan pelepah tua (pruning) sebagai guludan bahan organik pada gawangan, pengambilan tandan kosong dan limbah cair olahan yang merupakan bagian dari mekanisme konservasi tanah dan air di kebun sawit.
3. Sistem perakaran serabut pohon kelapa sawit yang massif, luas dan dalam. Perakaran kelapa sawit dewasa dapat mencapai radius 4 meter sekeliling pangkal dengan kedalaman sampai 5 meter dibawah permukaan tanah yang membentuk pori-pori mikro dan makro tanah (Harahap, 1999, 2007) yang dapat disebut biopori alamiah. Biopori alamiah sawit tersebut terbanyak berada pada sekitar/dekat pangkal pohon sawit. Pori-pori mikro dan makro tanah tersebut makin banyak dengan makin dewasa tanaman kelapa sawit.

Biopori alamiah tersebut meningkatkan kemampuan lahan kebun sawit dalam menyerap/menahan air (water holding capacity) melalui peningkatan penerusan (infiltrasi) air hujan kedalam tanah sehingga mengurangi aliran air permukaan (run off) dan menyimpan cadangan air didalam tanah. Semakin banyak biopori alamiah sawit (yakni dekat pangkal batang) semakin tinggi laju infiltrasi air permukaan tanah mengisi biopori. Laju infiltrasi tersebut juga semakin meningkat dengan meningkatnya umur tanaman, sehingga erosi permukaan tanah (water run-off) makin terkendali.

Ketiga mekanisme konservasi tanah dan air tersebut terikat dan menyatu (built-in) pada tanaman dan kebun sawit, sehingga mengelola kebun sawit untuk tujuan ekonomi juga sekaligus mengelola ketiga konservasi tanah dan air tersebut. Selain itu, ketiga mekanisme konservasi tanah dan air kebun sawit tersebut berjangka panjang sama dengan umur ekonomis kebun sawit (rata-rata 25 tahun).

Dengan demikian perkebunan kelapa sawit memiliki sistem konservasi tanah dan air. Bahkan tanaman kelapa sawit memenuhi syarat sebagai tanaman konservasi tanah dan air (Harahap, 1999,2007).

Sumber: Mitos vs Fakta, PASPI 2017
loading...

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Akad - Payung Teduh