chitika

Monday, January 22, 2018

Suramnya Perkebunan Karet


Tanaman yang memiliki bunga berwarna kuning merekah ini masih satu keluarga dengan jenis bunga daisy atau aster. Sebelum menjadi bunga berwarna kuning, dandelion merupakan sekumpulan bunga kecil yang mudah ditiup dan akan tersebar oleh angin. Sampai sekarang anak-anak dan dewasa di pedesaan masih sering meniup bunga tersebut.
Ciri lainnya terletak pada daun beralur untuk mengalirkan air hujan ke akar. Selain itu bunga Dandelion sensitif terhadap cahaya, sehingga bunga akan terbuka dengan matahari pagi dan menututup di malam hari atau saat cuaca mendung. Akarnya berdaging coklat gelap dan rapuh dan terdapat zat putih susu yang sedikit pahit dan beraroma segar. Di Indonesia, dandelion lebih dikenal dengan nama randa tapak.

Seorang ilmuwan perempuan asal Belanda menemukan bahwa bunga dandelion ternyata menyimpan bahan yang berkualitas untuk membuat ban kendaraan bermotor.  Dandelion yang lebih sering dianggap sebagai gulma ternyata mempunyai getah yang cukup pada akarnya, yang kualitasnya setara dengan getah karet di negara-negara tropis Asia, seperti Indonesia.  "Orang mengira ini tumbuhan yang mengerikan dan meragukan bagaimana bisa memperoleh material yang cukup dari akar yang berukuran kecil," kata Ingrid van der Meer, pakar biologi Belanda yang berjasa mengungkap keajaiban itu.

Van der Meer dan timnya menemukan getah berkualitas itu pada tipe dandelion yang berasal dari Kazakhstan. Getah pada akar dandelion itu mengandung partikel yang biasa digunakan pada ban kendaraan. Dalam sebuah uji coba berskala kecil di Amerika Serikat, ditemukan bahwa satu hektar dandelion bisa menyediakan karet yang jumlahnya setara dengan yang dihasilkan oleh perkebunan pohon karet di Asia.

Apa lagi, tanaman dandelion tersebut bisa tumbuh di daerah subtropis seperti Eropa dan Amerika, bahkan pada tanah yang tidak begitu subur. Hal ini tentu saja lebih menguntungkan produsen mobil, karena akan mengurangi biaya impor karet dari wilayah tropis.

Sejauh ini sudah ada beberapa produsen ban yang tertarik dengan riset tersebut. Misalnya saja Bridgestone Corp dan Continental AG, yang bersedia menggelontorkan jutaan dolar untuk melanjutkan riset tersebut.

Industri ban, yang mengonsumsi sekitar dua pertiga karet alam dunia, sejak lama sangat bergantung pada hasil pohon karet di Asia Tenggara, yang nilainya bisa mencapai 25 miliar dolar AS atau sekitar Rp292 triliun setiap tahunnya.

Bahkan lebih dari 100 tahun sejak karet sintetis ditemukan, industri ban global masih tergantung pada material unik yang hanya bisa dihasilkan oleh pohon karet dan tidak bisa diciptakan oleh teknologi manusia.

Ban mobil penumpang misalnya harus mengandung 10 sampai 40 persen karet alam agar bisa tetap lentur di suhu rendah dan tidak cepat retak. Pada ban truk atau pesawat terbang, kadar karet alam bahkan lebih besar. (Reuters)
loading...

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Akad - Payung Teduh