chitika

Saturday, January 20, 2018

PEMBUKAAN LAHAN DAN PENGOLAHAN TANAH (2)

Secara Kimia
1.    Menghimas perdu dilakukan dengan manual.
2.    Pemberantasan Lalang
a.       Waktu penyemprotan Dalam menentukan waktu yang tepat untuk penyemprotan  perlu diperhatikan faktor-faktor berikut:
1.       Kondisi Lalang  Penyemprotan akan berhasil baik apabila pertumbuhan lalang optimal yakni sebagai berikut : warna daun hijau tua, segar, dan tinggi ± 60 cm. Tunas-tunas rhizoma sebagian besar telah tumbuh, dan pada umumnya lalang akan tumbuh optimal 2-4 minggu setelah dibabat mepet.

2.       Kondisi Lingkungan
-          Penyemprotan dilaksanakan pada waktu pagi hari dan tidak terkena hujan selama 4 jam setelah penyemprotan.
-          Arah penyemprotan disesuaikan dengan arah angina
-          Penyemprotan tidak dilaksanakan dalam kondisi : •  iklim sangat kering  •  angin sangat kencang
b.       Teknik Penyemprotan
Dalam teknik penyemprotan, kalibrasi merupakan hal yang sangat penting. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain : nozzle, tekanan pompa (0,7 -1 kg per cm2), kecepatan berjalan, dan topografi/ketebalan pertumbuhan gulma sasaran.
1.       Nozzle. 
Untuk penyemprotan menyeluruh (blanket) digunakan nozzle dengan bentuk semprotan seperti kipas (fan atau flat nozzle) yang biasanya terbuat dari plastik berwarna merah, kuning dan biru. Sedangkan untuk spot spraying digunakan nozzle konus (cone nozzle) atau VLV yang mempunyai semprotan yang berbentuk kerucut. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah : tekanan pompa 0,7 - 1 kg per cm2, kecepatan berjalan dan penyemprotan dimulai dari areal yang paling ringan.
2.       Organisasi kerja. 
Untuk efektivitas penyemprotan, maka dibentuk regu penyemprotan yang dipimpin oleh seorang Mandor. Regu terdiri dari 13 orang : - 8 (delapan) orang tenaga penyemprot. - 4 (empat) orang menyediakan larutan dari drum pencampur kepada penyemprot. - 1 (satu) orang bertugas mencampur.
3.       A i r. 
Air campuran herbisida harus air jernih (bebas koloid tanah). Bila berasal dari air sungai atau air parit yang keruh harus sudah diendapkan terlebih dahulu (bebas lumpur).   Karena air yang berlumpur sangat menghambat jalannya penyemprotan (nozzle tersumbat) sehingga kapasitas kerja  rendah dan menurunkan efektivitas untuk jenis glifosat.
4.       Pengawasan. 
Untuk memudahkan pengawasan perlu dipersiapkan : - Rencana harian penyemprotan termasuk peta kerja, persiapan alat, racun dan tenaga. - Catatan kegiatan harian/ laporan harian.
5.       Penyemprotan koreksi perlu dilakukan terhadap hasil penyemprotan yang kurang baik.
6.       Jenis dan dosis herbisida.  
Jenis herbisida yang digunakan adalah Glifosat atau sulfosat. Dosis yang digunakan untuk penyemprotan tergantung kepada klasifikasi / kondisi lalang, yaitu : 

Klasifikasi Lalang

% Penutupan

Dosis/Ha (dalam 600-800 ltr air)
1.  Sheet
61-100
6-8
2.  Berat
21-60
4-5
3.  Sedang
5-20
2-3
4.  Ringan
<5
1-2

Kalau dinyatakan dalam konsentrasi (%) penggunaan disesuaikan dengan tipe alat semprot dan nozzle sebagai berikut:
Tipe Nozzle
Konsentrasi
Ml per ltr air
%
1.    Merah & Hijau
6 & 10
0,6 & 1,0
2.    VLV 200
20 & 40
2,5 & 4,0


7.       Alat Semprot.  Tipe yang umum dipakai adalah:
-          Alat semprot punggung (knapsack sprayer),  herbi dan lain-lain.
-          Mekanismenya digerakkan oleh tenaga manusia.
-          Power sprayer : Alat semprot ini mekanisme kerjanya digerakkan oleh tenaga mesin (mesin gendong atau traktor).

8.       Pelaksanaan penyemprotan.
-          Bersihkan dan periksa semua peralatan apakah dalam keadaan baik dan nozzle telah sesuai.
-          Persiapkan tangki air, drum, ember, jerigen, dan takaran serta periksa mutu air yang akan dipergunakan.
-          Untuk mengetahui volume air persatuan luas pada kecepatan jalan tertentu, lakukan kalibrasi minimal 3 kali. Volume semprot adalah hasil rata-rata dari kalibrasi yang dilakukan.
-          Pencampuran herbisida dilakukan dalam drum dan disesuaikan dengan dosis anjuran dan hasil kalibrasi.
-          Pelaksanaan penyemprotan dilakukan secara beregu, jarak antar penyemprot agar disesuaikan dengan lebar jangkauan nozzle.   Lebar jangkauan semprotan setiap jenis nozzle sebagai berikut: 
Type Nozzle
Lebar Semprotan (mtr)
1. VLV
2. Merah
3. Biru
2,0
2,0
1,3

-          Sediakan pancang yang jelas di daerah yang akan disemprot dan gunakan pancang tersebut pada saat pelaksanaan maupun setiap kali penyemprotan selesai dilakukan.
9.       Pelaksanaan Wipping.
-          Siapkan larutan herbisida konsentrasi 0,75 % - 1,0 %, dosis 30 cc per hektar per rotasi.
-          Putuskan ujung daun lalang sebagai tanda telah di wipping.
3.    Memberantas Gulma Non Lalang .
Jenis herbisida yang digunakan adalah tergantung pada jenis gulma yang akan disemprot.  Untuk jenis gulma campuran, herbisida yang digunakan adalah campuran Glifosat dengan Metsulfuron  Penyemprotan dilakukan 2 kali, yaitu:
a.       Penyemprotan Pertama.
1.    Dosis untuk gulma berat :
3 liter Glifosat + 250 gram Metsulfuron dalam 500 liter air
2.    Dosis untuk gulma ringan :
1,5 liter Glifosat + 125 gram Metsulfuron per hektar dalam 500 liter air.
      b.  Penyemprotan Kedua
             Perlakuan ini diberikan sebagai koreksi pada gulma yang tidak mati pada penyemprotan pertama:
             1.  1,5 liter Glifosat + 125 gram Metsulfuron per hektar.

             2.  Penyemprotan kedua dilakukan 21 hari (3 minggu) setelah penyemprotan pertama.
loading...

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Akad - Payung Teduh